Rabu, 04 Maret 2020

Jalan-Jalan ke Pulau Pari Tanpa ada Travel Agent (Backpacker & Beachcamping)

Pulau Pari ialah satu pulau di Kepulauan Seribu sebagai salah satunya tempat wisata favorite terutamanya untuk orang Jakarta serta sekelilingnya. Pulau Pari terdapat 30 km. arah barat laut dari Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke dengan waktu pintas seputar 2 jam memakai kapal feri tradisionil.Lebih 2 minggu lantas, persisnya tanggal 23-25 Juni 2018, saya serta rekan-rekan berekreasi ke Pulau Pari dengan backpacker atau tanpa ada agen travel. Di tulis ini, saya akan katakan bagaimana penjelajahan kami disana, sekaligus juga memberi beberapa tips serta info buat yang ingin lakukan perjalanan sama juga.

Awalnya, beberapa tahun kemarin saya serta keluarga pernah ke Pulau Pari sebab ada kerabat yang disebut masyarakat disana. Dahulu, wisata di Pulau Pari belum seramai saat ini.Sebab telah lama tidak bertandang serta ingin tahu dengan Pulau Pari saat ini, saya putuskan untuk kesana bersama dengan rekan-rekan universitas, sekaligus juga berlibur.

Saya ajak rekan-rekan satu geng di universitas satu minggu sebelum keberangkatan. Sesudah banyak berdiskusi di group, jadilah berlibur ke Pulau Pari ini bersama dengan 5 rekan saya yang menjadi turut -Gito, Farhan, Dika, Wawan serta Dwiki-.Satu hari sebelum pergi, kami bergabung serta bermalam di dalam rumah Dika dahulu, di Cipayung, Jakarta. Ini kami kerjakan sebab kami pergi dari berlainan kota hingga cemas akan telat ke Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke.

Ke arah Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke 


Hari Sabtu subuh, tanggal 23, kami pergi dari rumah Dika ke arah Pelabuhan Kaliadem memakai GrabCar. Sasaran kami ialah datang di pelabuhan jam 6.30 supaya tidak kehabisan ticket. Tapi, kami terlambat serta baru datang disana jam 7.Saya segera ke loket pembelian ticket kapal ke Pulau Pari. Antriannya lumayan panjang. Serta terjadi apa yang saya kuatirkan, kami kehabisan ticket kapal pertama.Jika saja ini bukanlah musim berlibur, telah dinyatakan kami harus kembali pulang sebab kapal penyeberangan di hari-hari biasa cuma ada sekali keberangkatan dari Pelabuhan Kaliadem.

Berita baiknya, kami dapat kebagian ticket kapal ke-2 serta pegawai ticket katakan keberangkatannya jam 9.00. Sesudah masalah ticket usai, kami juga menanti di peron pelabuhan.Harga ticket kapal ke Pulau Pari dari Pelabuhan Kaliadem ialah Rp. 45000, ditambah Rp. 2000 untuk ongkos peron. Jadi totalnya Rp. 47000.Dengan wajah-wajah jengkel, kami menanti dalam tempat nantikan (seperti halte) untuk kapal. Jarum jam hampir menunjuk ke angka 9 cocok, tetapi tidak ada pertanda kapal berlabuh.Kami menanyakan pada petugas. Jawaban yang kami terima malah membuat kami semakin jengkel. Nyatanya keberangkatan jam 9 ialah keberangkatan pulang dari Pulau Pari ke Pelabuhan Kaliadem.Keberangkatan yang sebetulnya kapal ke-2 dari Pelabuhan Kaliadem ke Pulau Pari ialah jam 11. Dengan sangat terpaksa, kami harus menanti . Penumpang lain yang beli ticket kapal ke-2 juga, kelihatan tidak sabar.

Jam 11, pada akhirnya KM Nusantara yang kami nantikan datang. Kami mulai antre masuk kapal sesudah kapal berlabuh. Jam 11.30, kapal mulai berjalan sesudah penelusuran ticket, pengarahan keselamatan serta pembagian pakaian pelampung.Waktu itu ombak sedang besar. Kapal yang kami naiki terombang-ambing serta membuat pusing. Karena itu, perjalanan kami bertambah lama. Kami sampai di Pulau Pari seputar jam 2 siang, dengan kondisi hampir mabok laut.

Sesampainya disana, saya serta rekan-rekan langsung ke arah rumah bibi saya untuk istirahat. Mendekati ashar, kami ke arah Pantai Pasir Perawan untuk membangun tenda yang akan kami tinggali malam itu.

Pantai Pasir Perawan – Pulau Pari 


Waktu itu, perkemahan di Pantai Pasir Perawan masih padat. Untuk berkemah di sini, kita harus mendaftarkan serta dikenai ongkos 15000 perorang untuk satu malam. Sesudah membangun tenda, kami jalan-jalan di seputar pantai sesaat. Pantai Pasir Perawan ialah tempat wisata penting di Pulau Pari. Pantai Pasir Perawan mempunyai garis pantai yang benar-benar panjang sampai ke ujung barat pulau. Di Pantai ini banyak resto-resto serta gazebo yang disediakan untuk pengunjung.

Naik Kapal Kayu Ke arah Kepuluan Seribu, Jakarta

Pelabuan Muara Angke jadi salah satunya tempat ke arah wisata di ke Pulauan Seribu yang murah dan meriah.Kepulauan Seribu jaraknya tidak demikian jauh dari Teluk Jakarta. Perjalanan ke arah Kepulauan Seribu dapat ditempuh dengan naik kapal kayu dari pelabuhan Muara Angke. Perjalanan dari pusat kota ke Muara Angke lancar saat pagi hari. Untuk sampai ke pelabuhan Muara Angke karena itu kita dapat melalui lokasi Kota Tua serta Pluit. Jangan bingung bila demikian sampai di pintu gerbang Kampung Nelayan Muara Angke perjalanan mulai padat merayap sampai 500 mtr. ke depan. Ini sebab terdapat beberapa kendaraan yang ke arah Pelabuhan atau Pasar Ikan yang terletak bersisihan.

Bila ingin ke arah Muara Angke dengan kendaraan umum, karena itu kita dapat naik Busway serta turun di Pluit atau juga bisa dari Grogol. Sebab dari Grogol ada angkutan umum (Angkot) merah dengan nomor B 01 dengan rute Grogol-Muara Angke. Angkutan umum ini melalui halte Busway Pluit.Terdapat beberapa kapal kayu yang disebut Kapal Penyeberangan Warga bertumpu di dermaga pelabuhan Muara Angke. Semasing kapal layani rute ke sejumlah Pulau besar di kepulauan seribu. Seperti Pulau Tidung, Pulau Pramuka Pulau Keinginan.

Pada hari libur pelabuhan Muara Angke ini akan penuh sesak. Sejumlah besar dari beberapa orang yang penuhi pelabuhan ini ialah mereka yang akan pergi ke Pulau Seribu. Butuh sedikit perjuangan untuk dapat sampai ke kapal. Kapal-kapal ini berjajar sampai 4 kapal ke samping. Hingga kami harus melonjak dari satu kapal ke kapal lain supaya dapat sampai ke kapal yang kami tumpangi.


Untunglah kami masuk ke kapal lebih dulu dibandingkan lainnya. Jadilah kami dapat tempat di ruangan nahkoda. Tempat strategis yang dicari penumpang sebetulnya. Sesudah menanti seputar 45 menit pada akhirnya kapal yang bawa kami mulai jalan perlahan-lahan dari pelabuhan pada jam 07.30. Sampai pada akhirnya beberapa waktu selanjutnya sampai di laut terlepas.

Bapak nahkoda yang bawa kami telah kerja semenjak tahun 1982. Jadi tidaklah heran jika feelingnya bagus sekali. Saat ada yang menanyakan berapakah kecepatan kapal ini, karena itu secara cepat dia manjawab, “11 mil/jam.” Walau sebenarnya di muka kemudi tidak ada alat pengukur kecepatan benar-benar.

Selama perjalanan, bapak nahkoda yang ramah berbaik hati jadi guide kami. Saat melalui pulau pertama di samping kanan dia menceritakan mengenai kisah pulau yang dinamakan Pulau Sakit. “Waktu zaman belanda dahulu, orang yang sakit di bawa serta kesini.” Bisa saja ini ialah pulau tempat pembuangan beberapa pasien kusta.

Bapak nahkoda menceritakan mengenai bagaimana dia mengendalikan kecepatan kapal. Di muka kemudi ada 6 tuas, 3 berwarna hitam serta 3 berwarna merah. Nah bila tuas hitam ini maju ke depan itu berarti kecepatan makin bertambah. Jadi jika 3 tuas itu maju semua, itu pertanda kapal meluncur dengan kecepatan penuh.Cuaca ini hari benar-benar cerah, jadi di laut ombaknya kecil serta cuma berasa sedikit guncangan. Namun makin jauh kapal berjalan, ombak makin besar, meskipun tidak besar sekali. Serta guncangan yang kami rasakan sempat membuat beberapa temanku mabuk laut, hingga beberapa dari kami makin banyak melepaskan perjalanan ini dengan tidur.

Mungkin saja sebab ini ialah hari libur, kapal yang kami tumpangi sarat penumpang. ruang kapal yang terbagi dalam 2 lantai ini penuh. Begitupun dibagian kanan serta kiri kapal. Serta dibagian depan kapal terisi penumpang. Ditengah-tengah perjalanan ada petugas kapal yang menarik biaya. Saya fikir , “mirip sekali sama angkot di Jakarta. Penumpang naik dahulu serta biaya ditarik di atas.” Jadi jika naik dari pelabuhan Muara Angke kita tak perlu beli karcis. Biaya ke arah Pulau Keinginan sebesar Rp 35.000. Kelihatannya harga ini berlaku sama baik itu pada hari libur atau hari biasa.

Sesudah di kapal sepanjang kira-kira 2,5 jam kami mulai lihat satu pulau dengan dermaga. Di perairan sebelum sampai pulau ini terdapat banyak keramba apung. Sesudah sampai dermaga Pulau Keinginan semua penumpang turun satu-satu dari sisi depan kapal serta pintu samping ruangan lantai bawah.