Awalnya, beberapa tahun kemarin saya serta keluarga pernah ke Pulau Pari sebab ada kerabat yang disebut masyarakat disana. Dahulu, wisata di Pulau Pari belum seramai saat ini.Sebab telah lama tidak bertandang serta ingin tahu dengan Pulau Pari saat ini, saya putuskan untuk kesana bersama dengan rekan-rekan universitas, sekaligus juga berlibur.
Saya ajak rekan-rekan satu geng di universitas satu minggu sebelum keberangkatan. Sesudah banyak berdiskusi di group, jadilah berlibur ke Pulau Pari ini bersama dengan 5 rekan saya yang menjadi turut -Gito, Farhan, Dika, Wawan serta Dwiki-.Satu hari sebelum pergi, kami bergabung serta bermalam di dalam rumah Dika dahulu, di Cipayung, Jakarta. Ini kami kerjakan sebab kami pergi dari berlainan kota hingga cemas akan telat ke Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke.
Ke arah Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke
Hari Sabtu subuh, tanggal 23, kami pergi dari rumah Dika ke arah Pelabuhan Kaliadem memakai GrabCar. Sasaran kami ialah datang di pelabuhan jam 6.30 supaya tidak kehabisan ticket. Tapi, kami terlambat serta baru datang disana jam 7.Saya segera ke loket pembelian ticket kapal ke Pulau Pari. Antriannya lumayan panjang. Serta terjadi apa yang saya kuatirkan, kami kehabisan ticket kapal pertama.Jika saja ini bukanlah musim berlibur, telah dinyatakan kami harus kembali pulang sebab kapal penyeberangan di hari-hari biasa cuma ada sekali keberangkatan dari Pelabuhan Kaliadem.
Berita baiknya, kami dapat kebagian ticket kapal ke-2 serta pegawai ticket katakan keberangkatannya jam 9.00. Sesudah masalah ticket usai, kami juga menanti di peron pelabuhan.Harga ticket kapal ke Pulau Pari dari Pelabuhan Kaliadem ialah Rp. 45000, ditambah Rp. 2000 untuk ongkos peron. Jadi totalnya Rp. 47000.Dengan wajah-wajah jengkel, kami menanti dalam tempat nantikan (seperti halte) untuk kapal. Jarum jam hampir menunjuk ke angka 9 cocok, tetapi tidak ada pertanda kapal berlabuh.Kami menanyakan pada petugas. Jawaban yang kami terima malah membuat kami semakin jengkel. Nyatanya keberangkatan jam 9 ialah keberangkatan pulang dari Pulau Pari ke Pelabuhan Kaliadem.Keberangkatan yang sebetulnya kapal ke-2 dari Pelabuhan Kaliadem ke Pulau Pari ialah jam 11. Dengan sangat terpaksa, kami harus menanti . Penumpang lain yang beli ticket kapal ke-2 juga, kelihatan tidak sabar.
Jam 11, pada akhirnya KM Nusantara yang kami nantikan datang. Kami mulai antre masuk kapal sesudah kapal berlabuh. Jam 11.30, kapal mulai berjalan sesudah penelusuran ticket, pengarahan keselamatan serta pembagian pakaian pelampung.Waktu itu ombak sedang besar. Kapal yang kami naiki terombang-ambing serta membuat pusing. Karena itu, perjalanan kami bertambah lama. Kami sampai di Pulau Pari seputar jam 2 siang, dengan kondisi hampir mabok laut.
Sesampainya disana, saya serta rekan-rekan langsung ke arah rumah bibi saya untuk istirahat. Mendekati ashar, kami ke arah Pantai Pasir Perawan untuk membangun tenda yang akan kami tinggali malam itu.
Pantai Pasir Perawan – Pulau Pari
Waktu itu, perkemahan di Pantai Pasir Perawan masih padat. Untuk berkemah di sini, kita harus mendaftarkan serta dikenai ongkos 15000 perorang untuk satu malam. Sesudah membangun tenda, kami jalan-jalan di seputar pantai sesaat. Pantai Pasir Perawan ialah tempat wisata penting di Pulau Pari. Pantai Pasir Perawan mempunyai garis pantai yang benar-benar panjang sampai ke ujung barat pulau. Di Pantai ini banyak resto-resto serta gazebo yang disediakan untuk pengunjung.



